Sabtu, 14 Februari 2009

City Of tHe MontH


Musim hujan datang, seperti yang sudah di duga oleh sebagian besar warga semarang, hujan kali ini gag luput juga dari banjir. Dan seperti biasa juga yang kena banjir warga Semarang bawah (yg sabar y...). Tapi hujan kali ini yang kata bapak-2 yang pintar, intensitasnya meningkat, yang mengakibatkan banjirkanal gag mampu menampung air-2nya. Sehingga banjir kali ini, jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Wilayah-2 yang langganan terkena banjir, kali ini juga gag absen, seperti wilayah kaligawe (always...), tlogosari, stasiun, bahkan bandara juga kena banjir, hanya semarang yang bisa ini. Namun, ketinggian air jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Karena banjir pula, jadwal penerbangan dan kereta tertunda atau batal.

Tapi, ternyata hujan kali ini tidak hanya warga semarang bawah yang menderita, tapi juga warga kota atas, setelah hujan turun terus-menerus warga atas resah kalo-2 terjadi tanah longsor seperti yang terjadi di talang, bendan. Dan ternyata genangan-2 air tidak hanya terjadi di kota bawah, tapi juga atas, kalo tidak percaya, coba ke daerah tembalang, Mulai di pintu gerbang patung diponegoro, pasti terlihat genangan-2 air yang lumayan juga. Itu mungkin disebabkan karena, saluran air atau selokannya sudah ditutup, hanya dibuka sedikit, pohon-2 ditebangi, sehingga daerah resapan airnya sangat kurang, apalagi ditambah dengan trotoar-2 yang digunakan untuk berjualan, dengan sampah yang berserakan, sungguh ironis untuk sebuah kawasan pelajar (karena banyak kampus si situ hE,,).

Dan, untuk bulan Februari ini, Semarang bisa di sebut sebagai City Of the Month, coba lihat di televisi hampir semua berita tentang Semarang, tapi bukan tentang "Semarang Pesona Asia" nya, tapi semua memberitakan tentang banjir. Keren....
Jika sudah demikian, mestinya Semarang Pesona Asia yang selama ini didengung-dengungkan perlu di kaji ulang. Jangan sampai SPA itu menjadi Semarang Pesona Air. Semarang sebagai ibukota provinsi Jawa Tengah, jangan sampai tertinggal dengan daerah lain, seperti Solo. Bahkan Gubernur Jateng sempat mengkritik dengan mengatakan "jangan sampai ibu kota prop pindah ke Solo".
Banjir memang belum surut, tapi alangkah baiknya jika kita sama-sama belajar mengatasi banjir. Teknologi mengatasi banjir dapat dipelajari dari negara-2 lain seperti Belanda, tapi yang paling diperlukan adalah kesadaran. Kesadaran untuk sama-sama menjaga lingkungan, tinggalkan gaya hidup yang dapat menyebabkan banjir. Agar saat banjir, warga kota bawah tidak menyalahkan warga atas karena mendapat "hadiah" air. Warga kota Atas juga jangan menebang pohon untuk membuka lahan baru, agar longsor dapat dicegah dan daerah resapan masih terjaga.
Semoga kita sama-sama dapat membangun dan menjaga Semarang kita tercinta. Agar Semarang Pesona Asia tidak hanya menjadi sebuah tag line tapi dapat terwujud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar