Minggu, 01 Februari 2009

PESTA RAKYAT DEMOKRASI

PESTA RAKYAT DEMOKRASI

Pemilihan Umum tidak terasa sebentar lagi, 9 April rakyat Indonesia diberikan hak untuk memilih wakil rakyatnya. Rakyat Indonesia sudah disuguhi 48 menu partai politik. Ibarat menu makanan, ke-48 parpol tersebut menawarkan cita rasa masing-masing. Ada parpol yang masih bertahan dari dulu, seperti PPP, PDI, dan Golkar. Namun, ada juga partai baru, yang entah telah memiliki berapa ratus kader atau hanya sekedar lolos dan menyemarakkan pesta demokrasi 5 tahun sekali.

Baik partai politik ataupun caleg yang diusung pun telah gencar melakukan kampanye. Ada yang secara terang-terangan lewat poster, spanduk, flyer. Yang bukan terkesan semarak, tapi justru terkesan merusak keindahan kota. Bagaimana tidak, kertas-kertas bergambar caleg dan partai yang mengusungnya ditempel di pohon, tembok-tembok, tiang listrik, yang jelas hampir di setiap sudut kota, dari ujung hingga pelosok, kita akan menemukan kertas-kertas kampanye. Atau kampanye yang dilakukan secara terselubung. Seperti memberikan sembako kepada warga, dengan dalih amal, tetapi didalamnya tetap mendapat “bonus” stiker bergambar calon legislatif dan partainya. Bahkan sekarang untuk menjadi caleg, siapa pun bisa, tanpa syarat yang terlalu rumit. Seperti kecenderungan artis yang beramai-ramai mendaftar jadi caleg, yang kebanyakan masih sangat diragukan kemampuan berpolitiknya, dan lebih dari separonya hanya menjual “nama beken” mereka di masyarakat. Bahkan tukang parkir pun sekarang bisa caleg.

Partai politik juga tidak mau kalah dengan para calegnya, partai politik besar sudah mulai gencar menentukan capres dan cawapresnya. Dan yang pasti “muka-muka lama” yang gagal jadi presiden 5 tahun lalu dipastikan akan tetap mencalonkan diri menjadi presiden. Saling perang janji lewat media massa dan debat terbuka lewat televisi. Bahkan yang paling sering dilakukan adalah menjelek-jelekkan antar pasangan.

Rakyat yang sudah hidup bertahun-tahun di Indonesia, pastinya sudah sangat hapal dengan tingkah para calon legislatif dan partai politik yang terlihat “baik hati” saat menjelang kampanye. Mulai dari mengumbar janji-janji yang terlalu muluk dan lebay (baca: berlebihan). Membagi-bagikan sembako dan uang “simpatik”, mendengarkan keluhan rakyat kecil dan berjanji mengatasinya jika nanti terpilih. Namun, realisasinya setiap ada calon yang telah terpilih justru seakan-akan lupa atau sengaja melupakan janjinya. Jangankan ingat memperjuangkan rakyat, kebanyakan justru sibuk memperjuangkan kepentingan pribadinya, terutama bagaimana cara kembali modal yang telah digunakan untuk kampanye.

Dengan kecenderungan tersebut, wajar jika lembaga-lembaga survei memperkirakan angka golput akan meningkat. Salah satu penyebabnya adalah rakyat sudah jenuh dengan para “wakilnya” di atas. Rakyat beranggapan, siapa pun wakilnya, harga BBM, sembako, dan lain-lain pasti juga akan naik dan langka.


PESTA RAKYAT DEMOKRASI

1 komentar:

  1. iya ya,,buang-buang duit aja,ntar nyarinya susah lho..buat pesta gratisan yang murah meriah aja buk...

    BalasHapus